Kreativitas
adalah kemampuan individu untuk menciptakan sesuatu yang baru (Barron,
1965). Kreativitas membantu manusia untuk dapat menemukan berbagai
alternatif jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi. Tanpa adanya
kreativitas, manusia akan sulit berkembang di tengah keadaan dunia yang
serba dinamis.
Ketika
seseorang memasuki usia remaja, banyak perubahan yang terjadi dalam
dirinya. Remaja mengalami perubahan secara fisik dan psikis.
Perubahanperubahan tersebut seringkali menimbulkan kegelisahan pada
remaja. Remaja
juga mulai dihadapkan pada berbagai keputusan untuk hidupnya. Remaja mengalami masa-masa yang penuh tuntutan dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kreativitas sangat dibutuhkan untuk dapat membantu mereka melakukan
penyelesaian masalah. Kreativitas dapat tumbuh dan berkembang jika didukung oleh situasi yang
kondusif. Beberapa hal eksternal yang mempengaruhi kreativitas adalah situasi
yang kondusif dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam hal ini, faktor pola asuh orang tua menjadi hal yang dianggap paling mempengaruhi kreativitas seseorang karena pola asuh orang tua sudah dirasakan sejak lahir.
Selain faktor-faktor di atas, kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan belajar musik. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa penelitian tentang
pengaruh musik terhadap perkembangan kreativitas. Penelitian sebelumnya banyak yang menghasilkan suatu kesimpulan bahwa musik klasik dan jazz dapat meningkatkan kreativitas seseorang. Perbedaan metode pembelajaran antara
musik klasik dan jazz memungkinkan perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan para siswanya. Penelitian kuasi-eksperimental ini berusaha melihat perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan oleh remaja yang belajar musik klasik, jazz, dan yang tidak belajar musik. Populasi penelitian ini terbagi atas tiga
kelompok. Populasi remaja yang belajar musik klasik dan jazz adalah mereka yang berusia 12 sampai 22 tahun dan mengikuti pembelajaran musik minimal level 2 di sekolah musik Farabi, YPM, IKJ, dan Yamaha. Sementara itu, populasi
remaja yang tidak belajar musik adalah mahasiswa Universitas Atmajaya yang berusia maksimal 22 tahun dan memilih sendiri jurusan kuliah yang mereka minati. Pada awalnya, digunakan kuesioner pola asuh untuk menyamakan karakter subyek penelitian. Subyek penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 37 remaja yang belajar musik klasik, 35 remaja yang belajar musik jazz, dan 40 remaja yang tidak belajar musik. Untuk mengukur skor kreativitasnya, peneliti menggunakan alat Tes Kreativitas Verbal (TKV) karena paling mampu merepresentasikan teori yang
digunakan penulis sebagai acuan, yaitu teori Guilford (1950). Tes ini mengukur kemampuan seseorang mengeksplorasikan ide-ide dalam bentuk verbal, oleh karena itu, hasil skornya lebih mengarah kepada kemampuan verbalnya.
Tes Kreativitas Verbal diadministrasikan kepada 18 remaja yang belajar musik klasik, 10 remaja yang belajar musik jazz, dan 17 remaja yang tidak belajar musik. Penulis menggunakan uji terpakai dalam penelitian ini karena populasi subyek penelitian yang berjumlah kecil dan sulit didapatkan.
Berdasarkan perhitungan dengan statistik non-parametrik metode Kruskall-Wallis one-way analysis of variance by ranks, didapatkan bahwa ada perbedaan kreativitas antara remaja yang belajar musik klasik, musik jazz, dan remaja yang tidak belajar musik. Tetapi, berdasarkan hasil skor kreativitas diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan kreativitas tertinggi diperoleh pada
remaja yang tidak belajar musik. Penulis melakukan beberapa analisis tambahan, dan didapatkan suatu kesimpulan bahwa perbedaan jumlah subyek berdasarkan jenis kelamin turut
mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu, penggunakan alat tes kreativitas yang bermuatan verbal dirasa kurang dapat mengukur kemampuan kreativitas seseorang secara keseluruhan.Penelitian ini memberikan saran praktis yakni bagi praktisi psikologi untuk dapat melakukan pengembangan alat ukur kreativitas di Indonesia. Selain itu, penulis juga memberikan saran kepada lembaga pendidikan musik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan musiknya
Secara psikologis pengertian kreativitas adalah satuan potensi yang ada pada diri manusia. Kelompok Ilmiah Remaja berarti suatu kelompok yang anggotanya terdiri para remaja yang mempunyai kegiatan utama yang bersifat ilmiah. Dalam dunia pendidikan, aktivitas Kelompok Ilmiah Remaja merupakan suatu kegiatan aktivitas ekstrakurikuler yang berusaha menggali potensi yang ada pada remaja atau siswa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR), (2) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari, (3) Untuk mengetahui perbedaan kreativitas belajar antara siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR) dengan siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari
Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Purwosari Tahun Ajaran 2007 / 2008 yang berjumlah 357 orang siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI yang berjumlah 56 orang siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling dan Proporsional Random Sampling. Instrumen yang digunakan untuk Kreativitas Belajar adalah angket terstruktur yang terdiri dari item Positif dan Negatif. Teknik yang digunakan adalah persentase, uji normalitas uji homogenitas dan uji t, dan korelasi product moment dengan taraf kepercayaan 95 % dan tingkat toleransi kesalahan 5 %.
Hasil penelitian yang mengkuti KIR menunjukkan bahwa Sangat Sedikit (12,5 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Cukup Banyak (44,64 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Sedikit (39,28 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (3,57 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah dan yang tidak mengikuti KIR Sangat Sedikit (11,26 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Sedikit (30,98 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Cukup Banyak (45,07 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (12,67 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah.
Hasil analisis diperoleh perhitungan uji-t variabel kreativitas belajar siswa yang mengikuti kegiatan KIR dan yang tidak mengikuti kegiatan KIR di SMU Negeri 1 Purwosari dengan menggunakan progam SPSS versi 12,00 diperoleh koefisien t-hitung (t-value) yaitu sebesar 2,395 dengan koefisien probabilitasnya 0,000.
Berdasarkan hasil penelitian, maka penelti manyarankan kepada beberapa pihak yaitu (1) Para guru perlu memberikan rangsangan dan dukungan dalam menumbuhkan kreativitas belajar siswa dengan cara menciptakan pelayanan pembelajaran yang menjadikan siswa merasa bebas mengemukakan pikiran atau pendapat serta gagasan.(2) Para siswa yang mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja maupun yang tidak mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja perlu menambah aktivitas yang menumbuhkan kreativitas. (3) Para konselor supaya senantiasa aktif untuk memberikan bimbingan serta memberikan kesempatan dan peluang untuk berkreativitas secara tepat.
Kondisi Yang Membuat Orang Kreatif
juga mulai dihadapkan pada berbagai keputusan untuk hidupnya. Remaja mengalami masa-masa yang penuh tuntutan dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kreativitas sangat dibutuhkan untuk dapat membantu mereka melakukan
penyelesaian masalah. Kreativitas dapat tumbuh dan berkembang jika didukung oleh situasi yang
kondusif. Beberapa hal eksternal yang mempengaruhi kreativitas adalah situasi
yang kondusif dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam hal ini, faktor pola asuh orang tua menjadi hal yang dianggap paling mempengaruhi kreativitas seseorang karena pola asuh orang tua sudah dirasakan sejak lahir.
Selain faktor-faktor di atas, kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan belajar musik. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa penelitian tentang
pengaruh musik terhadap perkembangan kreativitas. Penelitian sebelumnya banyak yang menghasilkan suatu kesimpulan bahwa musik klasik dan jazz dapat meningkatkan kreativitas seseorang. Perbedaan metode pembelajaran antara
musik klasik dan jazz memungkinkan perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan para siswanya. Penelitian kuasi-eksperimental ini berusaha melihat perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan oleh remaja yang belajar musik klasik, jazz, dan yang tidak belajar musik. Populasi penelitian ini terbagi atas tiga
kelompok. Populasi remaja yang belajar musik klasik dan jazz adalah mereka yang berusia 12 sampai 22 tahun dan mengikuti pembelajaran musik minimal level 2 di sekolah musik Farabi, YPM, IKJ, dan Yamaha. Sementara itu, populasi
remaja yang tidak belajar musik adalah mahasiswa Universitas Atmajaya yang berusia maksimal 22 tahun dan memilih sendiri jurusan kuliah yang mereka minati. Pada awalnya, digunakan kuesioner pola asuh untuk menyamakan karakter subyek penelitian. Subyek penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 37 remaja yang belajar musik klasik, 35 remaja yang belajar musik jazz, dan 40 remaja yang tidak belajar musik. Untuk mengukur skor kreativitasnya, peneliti menggunakan alat Tes Kreativitas Verbal (TKV) karena paling mampu merepresentasikan teori yang
digunakan penulis sebagai acuan, yaitu teori Guilford (1950). Tes ini mengukur kemampuan seseorang mengeksplorasikan ide-ide dalam bentuk verbal, oleh karena itu, hasil skornya lebih mengarah kepada kemampuan verbalnya.
Tes Kreativitas Verbal diadministrasikan kepada 18 remaja yang belajar musik klasik, 10 remaja yang belajar musik jazz, dan 17 remaja yang tidak belajar musik. Penulis menggunakan uji terpakai dalam penelitian ini karena populasi subyek penelitian yang berjumlah kecil dan sulit didapatkan.
Berdasarkan perhitungan dengan statistik non-parametrik metode Kruskall-Wallis one-way analysis of variance by ranks, didapatkan bahwa ada perbedaan kreativitas antara remaja yang belajar musik klasik, musik jazz, dan remaja yang tidak belajar musik. Tetapi, berdasarkan hasil skor kreativitas diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan kreativitas tertinggi diperoleh pada
remaja yang tidak belajar musik. Penulis melakukan beberapa analisis tambahan, dan didapatkan suatu kesimpulan bahwa perbedaan jumlah subyek berdasarkan jenis kelamin turut
mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu, penggunakan alat tes kreativitas yang bermuatan verbal dirasa kurang dapat mengukur kemampuan kreativitas seseorang secara keseluruhan.Penelitian ini memberikan saran praktis yakni bagi praktisi psikologi untuk dapat melakukan pengembangan alat ukur kreativitas di Indonesia. Selain itu, penulis juga memberikan saran kepada lembaga pendidikan musik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan musiknya
Secara psikologis pengertian kreativitas adalah satuan potensi yang ada pada diri manusia. Kelompok Ilmiah Remaja berarti suatu kelompok yang anggotanya terdiri para remaja yang mempunyai kegiatan utama yang bersifat ilmiah. Dalam dunia pendidikan, aktivitas Kelompok Ilmiah Remaja merupakan suatu kegiatan aktivitas ekstrakurikuler yang berusaha menggali potensi yang ada pada remaja atau siswa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR), (2) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari, (3) Untuk mengetahui perbedaan kreativitas belajar antara siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR) dengan siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari
Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Purwosari Tahun Ajaran 2007 / 2008 yang berjumlah 357 orang siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI yang berjumlah 56 orang siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling dan Proporsional Random Sampling. Instrumen yang digunakan untuk Kreativitas Belajar adalah angket terstruktur yang terdiri dari item Positif dan Negatif. Teknik yang digunakan adalah persentase, uji normalitas uji homogenitas dan uji t, dan korelasi product moment dengan taraf kepercayaan 95 % dan tingkat toleransi kesalahan 5 %.
Hasil penelitian yang mengkuti KIR menunjukkan bahwa Sangat Sedikit (12,5 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Cukup Banyak (44,64 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Sedikit (39,28 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (3,57 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah dan yang tidak mengikuti KIR Sangat Sedikit (11,26 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Sedikit (30,98 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Cukup Banyak (45,07 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (12,67 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah.
Hasil analisis diperoleh perhitungan uji-t variabel kreativitas belajar siswa yang mengikuti kegiatan KIR dan yang tidak mengikuti kegiatan KIR di SMU Negeri 1 Purwosari dengan menggunakan progam SPSS versi 12,00 diperoleh koefisien t-hitung (t-value) yaitu sebesar 2,395 dengan koefisien probabilitasnya 0,000.
Berdasarkan hasil penelitian, maka penelti manyarankan kepada beberapa pihak yaitu (1) Para guru perlu memberikan rangsangan dan dukungan dalam menumbuhkan kreativitas belajar siswa dengan cara menciptakan pelayanan pembelajaran yang menjadikan siswa merasa bebas mengemukakan pikiran atau pendapat serta gagasan.(2) Para siswa yang mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja maupun yang tidak mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja perlu menambah aktivitas yang menumbuhkan kreativitas. (3) Para konselor supaya senantiasa aktif untuk memberikan bimbingan serta memberikan kesempatan dan peluang untuk berkreativitas secara tepat.
Kondisi Yang Membuat Orang Kreatif
Ada
beberapa kondisi dimana kreativitas dan menjadikan diri anda sendiri
menjadi kreatif sangat diperlukan, agar anda dapat menjadi pribadi yang
eksis dan penuh dengan karya yang bermanfaat bagi diri anda, orang lain,
dan masyarakat secara umum. Kondisi yang membutuhkan anda menjadi
pribadi yang kreatif adalah sebagai berikut:
Anda menghadapi kondisi berjalan ditempat, tidak puas, dan bosan (misalnya kerja sudah 10 tahun tapi Cuma kaya itu-itu aja, (ga’ bosen tuh?). Jika anda merasa roda hidup anda tidak berputar, anda tidak puas denga hasil yang anda peroleh, atau anda bosan dengan kondisi yang begitu-begitu saja, maka anda harus berupaya menjadi lebih kreatif. Ini bukan berarti Anda tidak mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan untuk Anda, melainkan ini adalah upaya untuk bisa meningkatkan diri anda menjadi lebih baik.
Anda yakin bahwa anda dapat mengerjakan lebih dibandingkan dengan yang anda peroleh sekarang (misalnya anda kuat bekerja selama 14 jam, tapi anda hanya punya pekerjaan yang dapat diselesaikan dlam waktu 5 jam saja). Jika anda memiliki sumber daya dan potensi yang lebih, namun anda belum memperoleh hasil yang setimpal, maka anda juga harus berupaya untuk lebih kreatif
Anda mengerjakan hal yang sama sepanjang hari dan berulang-ulang (misalnya tugas anda hanya memasang tutup botol kemasan air minum saja setiap harinya, dan Anda harus melakukannya setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00. Hmm… Apa gak bosen Cuma kaya gitu aja?). Jika anda mengerjakan hal yang itu-itu juga, maka anda sudah dapat memprediksi hasilnya. Oleh karena itu, anda perlu menjadikan diri Anda lebih kreatif agar anda dapat memperoleh hasil yang lain, yang juga diharapkan lebih baik dari sebelumnya.
Anda membicarakan hal yang sama dengan orang yang sama (ini adalah kondisi 4 L – lu lagi lu lagi, seperti suami istri yang tinggal di rumah BTN tipe 21).
Anda merasa sudah tidak menjadi diri anda lagi (misalnya anda krisis identitas, senang bergaya meniru-niru artis atau bintang idola anda). Jika anda kehilangan identitas, dan cenderung meniru-niru orang lain, maka anda juga perlu menjadi orang lebih kreatif. Just be yourself.
Anda menghadapi kondisi berjalan ditempat, tidak puas, dan bosan (misalnya kerja sudah 10 tahun tapi Cuma kaya itu-itu aja, (ga’ bosen tuh?). Jika anda merasa roda hidup anda tidak berputar, anda tidak puas denga hasil yang anda peroleh, atau anda bosan dengan kondisi yang begitu-begitu saja, maka anda harus berupaya menjadi lebih kreatif. Ini bukan berarti Anda tidak mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan untuk Anda, melainkan ini adalah upaya untuk bisa meningkatkan diri anda menjadi lebih baik.
Anda yakin bahwa anda dapat mengerjakan lebih dibandingkan dengan yang anda peroleh sekarang (misalnya anda kuat bekerja selama 14 jam, tapi anda hanya punya pekerjaan yang dapat diselesaikan dlam waktu 5 jam saja). Jika anda memiliki sumber daya dan potensi yang lebih, namun anda belum memperoleh hasil yang setimpal, maka anda juga harus berupaya untuk lebih kreatif
Anda mengerjakan hal yang sama sepanjang hari dan berulang-ulang (misalnya tugas anda hanya memasang tutup botol kemasan air minum saja setiap harinya, dan Anda harus melakukannya setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00. Hmm… Apa gak bosen Cuma kaya gitu aja?). Jika anda mengerjakan hal yang itu-itu juga, maka anda sudah dapat memprediksi hasilnya. Oleh karena itu, anda perlu menjadikan diri Anda lebih kreatif agar anda dapat memperoleh hasil yang lain, yang juga diharapkan lebih baik dari sebelumnya.
Anda membicarakan hal yang sama dengan orang yang sama (ini adalah kondisi 4 L – lu lagi lu lagi, seperti suami istri yang tinggal di rumah BTN tipe 21).
Anda merasa sudah tidak menjadi diri anda lagi (misalnya anda krisis identitas, senang bergaya meniru-niru artis atau bintang idola anda). Jika anda kehilangan identitas, dan cenderung meniru-niru orang lain, maka anda juga perlu menjadi orang lebih kreatif. Just be yourself.
sumber : http://dayatstain.blogspot.com/2013/01/menumbuhkan-bentuk-bentuk-kreativitas_10.html?m=1
goodlah...lanjut terus ka ngasih infonya
BalasHapuskeeep posting deh cangss
BalasHapusMakasih infonya ..
BalasHapusInfonya bermanfaaat
BalasHapusInfonya bermanfaat nih
BalasHapus