Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) merupakan salah satu
ekstrakurikuler yang bergerak dibidang kepalangmerahan dimana
ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) adalah wadah pembinaan anggota
remaja dengan tujuan membangun dan mengembangkan karakter anggota PMR
yang berpedoman pada tribakti PMR dan prinsip kepalangmerahan untuk
menjadi relawan masa depan. Berkaitan dengan aspek kecerdasan sosial,
salah satu sikap yang terbentuk adalah berupa kepedulian sosial yang
muncul dalam kegiatan ekstrakurikuler, yang nantinya akan memberikan
kontribusi penting dalam memupuk kesadaran nasional, maka dari itu
penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan
ekstrakurikuler khususnya kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja
(PMR) dalam menumbuhkan kepedulian sosial siswa.
Berdasarkan
uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler PMR dalam menumbuhkan kepedulian
siswa SMA Negeri 1 Malang yang meliputi: (1) perencanaan program kerja
ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMA Negeri 1 Malang; (2)
bentuk-bentuk program kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR)
di SMA Negeri 1 Malang; (3) pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Palang
Merah Remaja (PMR) dalam menumbuhkan kepedulian sosial di SMA Negeri 1
Malang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi
penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Malang, jalan Tugu Utara 1
Malang dan difokuskan kepada kegiatan ektrakulikuler Palang Merah Remaja
(PMR) yang berperan dalam menumbuhkan kepedulian sosial. Sumber data
dalam penelitian ini adalah kepustakaan, foto, dan data lapangan.
Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian
data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Untuk menjamin keabsahan
data yang diperoleh, peneliti melakukan pengecekan data dengan cara
sebagai berikut: perpanjangan keikutsertaan dan ketekunan pengamatan.
Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh kesimpulan hasil penelitian
sebagai berikut. Pertama perencanaan program kerja ekstrakurikuler
Palang Merah Remaja di SMA Negeri 1 Malang bertujuan untuk mengetahui
target-target atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam suatu
kegiatan. Dalam ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) yang
merencanakan program kerja PMR adalah anggota PMR dan pelatih PMR,
sedangkan pelaksana program kerja adalah keluarga besar PMR Wira Unit
SMA Negeri 1 Malang. Perencanaan program kerja PMR yang akan
dilaksanakan meliputi, Donor Darah Tugu (DDT), LATBINSAR (Latihan dan
Pembinaan Dasar) dan Pelantikan Anggota PMR Wira Unit SMA Negeri 1
Malang, Latihan Rutin (LARUT), Siaga Kesehatan, Mengikuti Lomba-Lomba
PMR, SERTIJAB (Serah Terima Jabatan) dan Pelantikan Pengurus.
Kedua, bentuk-bentuk program kerja ekstrakurikuler Palang Merah Remaja
(PMR) di SMA Negeri 1 Malang adalah Donor Darah Tugu (DDT), bentuk
kegiatan yang berhubungan dengan kepedulian sosial terhadap sesama
manusia. LATBINSAR (Latihan dan Pembinaan Dasar) dan Pelantikan Anggota
PMR Wira Unit SMA Negeri 1 Malang, bentuk kegiatan dari kegiatan ini
ada 2 macam yaitu Diklat Forum dan Diklat Alam. Latihan Rutin (LARUT),
bentuk kegiatan dalam Latihan Rutin adalah berupa pemberian ilmu-ilmu
kepalangmerahan dan nonkepalangmerahan. Siaga Kesehatan, bentuk
kegiatan yang dilakukan pada saat siaga kesehatan adalah anggota PMR
yang bertugas siaga selalu siap, sigap, dan tanggap, ketika ditugaskan
untuk siaga disuatu kegiatan atau acara. Mengikuti Lomba-Lomba PMR,
bentuk kegiatan pada program kerja ini adalah anggota PMR mengikuti
lomba sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh panitia lomba
yang bersangkutan. SERTIJAB (Serah Terima Jabatan) dan pelantikan
pengurus, bentuk kegiatannya berupa pemberian evaluasi terhadap laporan
pertanggungjawaban pengurus periode sebelumnya, kemudian dilanjutkan
dengan serah terima jabatan kepada pengurus baru yang terpilih.
Ketiga, pelaksanaan program kerja PMR yang dapat menumbuhkan kepedulian
sosial siswa SMA Negeri 1 Malang antara lain Donor Darah Tugu
(DDT),
LATBINSAR (Latihan dan Pembinaan Dasar) dan Pelantikan Anggota PMR Wira
Unit SMA Negeri 1 Malang, Latihan Rutin (LARUT), Siaga Kesehatan,
Mengikuti Lomba-lomba PMR, SERTIJAB (Serah Terima Jabatan) dan
Pelantikan Pengurus.
Penulis memberikan saran kepada institusi,
pembina PMR, serta penelitian lanjutan untuk selalu memaksimalkan usaha
dalam proses menumbuhkan rasa kepedulian sosial, sehingga bisa
bermanfaat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
sumber : http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/PPKN/article/view/32113
Nada Dwi Mentari's
Rabu, 14 Januari 2015
menumbuhkan bentuk-bentuk kreativitas remaja
Kreativitas
adalah kemampuan individu untuk menciptakan sesuatu yang baru (Barron,
1965). Kreativitas membantu manusia untuk dapat menemukan berbagai
alternatif jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi. Tanpa adanya
kreativitas, manusia akan sulit berkembang di tengah keadaan dunia yang
serba dinamis.
Ketika
seseorang memasuki usia remaja, banyak perubahan yang terjadi dalam
dirinya. Remaja mengalami perubahan secara fisik dan psikis.
Perubahanperubahan tersebut seringkali menimbulkan kegelisahan pada
remaja. Remaja
juga mulai dihadapkan pada berbagai keputusan untuk hidupnya. Remaja mengalami masa-masa yang penuh tuntutan dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kreativitas sangat dibutuhkan untuk dapat membantu mereka melakukan
penyelesaian masalah. Kreativitas dapat tumbuh dan berkembang jika didukung oleh situasi yang
kondusif. Beberapa hal eksternal yang mempengaruhi kreativitas adalah situasi
yang kondusif dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam hal ini, faktor pola asuh orang tua menjadi hal yang dianggap paling mempengaruhi kreativitas seseorang karena pola asuh orang tua sudah dirasakan sejak lahir.
Selain faktor-faktor di atas, kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan belajar musik. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa penelitian tentang
pengaruh musik terhadap perkembangan kreativitas. Penelitian sebelumnya banyak yang menghasilkan suatu kesimpulan bahwa musik klasik dan jazz dapat meningkatkan kreativitas seseorang. Perbedaan metode pembelajaran antara
musik klasik dan jazz memungkinkan perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan para siswanya. Penelitian kuasi-eksperimental ini berusaha melihat perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan oleh remaja yang belajar musik klasik, jazz, dan yang tidak belajar musik. Populasi penelitian ini terbagi atas tiga
kelompok. Populasi remaja yang belajar musik klasik dan jazz adalah mereka yang berusia 12 sampai 22 tahun dan mengikuti pembelajaran musik minimal level 2 di sekolah musik Farabi, YPM, IKJ, dan Yamaha. Sementara itu, populasi
remaja yang tidak belajar musik adalah mahasiswa Universitas Atmajaya yang berusia maksimal 22 tahun dan memilih sendiri jurusan kuliah yang mereka minati. Pada awalnya, digunakan kuesioner pola asuh untuk menyamakan karakter subyek penelitian. Subyek penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 37 remaja yang belajar musik klasik, 35 remaja yang belajar musik jazz, dan 40 remaja yang tidak belajar musik. Untuk mengukur skor kreativitasnya, peneliti menggunakan alat Tes Kreativitas Verbal (TKV) karena paling mampu merepresentasikan teori yang
digunakan penulis sebagai acuan, yaitu teori Guilford (1950). Tes ini mengukur kemampuan seseorang mengeksplorasikan ide-ide dalam bentuk verbal, oleh karena itu, hasil skornya lebih mengarah kepada kemampuan verbalnya.
Tes Kreativitas Verbal diadministrasikan kepada 18 remaja yang belajar musik klasik, 10 remaja yang belajar musik jazz, dan 17 remaja yang tidak belajar musik. Penulis menggunakan uji terpakai dalam penelitian ini karena populasi subyek penelitian yang berjumlah kecil dan sulit didapatkan.
Berdasarkan perhitungan dengan statistik non-parametrik metode Kruskall-Wallis one-way analysis of variance by ranks, didapatkan bahwa ada perbedaan kreativitas antara remaja yang belajar musik klasik, musik jazz, dan remaja yang tidak belajar musik. Tetapi, berdasarkan hasil skor kreativitas diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan kreativitas tertinggi diperoleh pada
remaja yang tidak belajar musik. Penulis melakukan beberapa analisis tambahan, dan didapatkan suatu kesimpulan bahwa perbedaan jumlah subyek berdasarkan jenis kelamin turut
mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu, penggunakan alat tes kreativitas yang bermuatan verbal dirasa kurang dapat mengukur kemampuan kreativitas seseorang secara keseluruhan.Penelitian ini memberikan saran praktis yakni bagi praktisi psikologi untuk dapat melakukan pengembangan alat ukur kreativitas di Indonesia. Selain itu, penulis juga memberikan saran kepada lembaga pendidikan musik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan musiknya
Secara psikologis pengertian kreativitas adalah satuan potensi yang ada pada diri manusia. Kelompok Ilmiah Remaja berarti suatu kelompok yang anggotanya terdiri para remaja yang mempunyai kegiatan utama yang bersifat ilmiah. Dalam dunia pendidikan, aktivitas Kelompok Ilmiah Remaja merupakan suatu kegiatan aktivitas ekstrakurikuler yang berusaha menggali potensi yang ada pada remaja atau siswa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR), (2) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari, (3) Untuk mengetahui perbedaan kreativitas belajar antara siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR) dengan siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari
Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Purwosari Tahun Ajaran 2007 / 2008 yang berjumlah 357 orang siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI yang berjumlah 56 orang siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling dan Proporsional Random Sampling. Instrumen yang digunakan untuk Kreativitas Belajar adalah angket terstruktur yang terdiri dari item Positif dan Negatif. Teknik yang digunakan adalah persentase, uji normalitas uji homogenitas dan uji t, dan korelasi product moment dengan taraf kepercayaan 95 % dan tingkat toleransi kesalahan 5 %.
Hasil penelitian yang mengkuti KIR menunjukkan bahwa Sangat Sedikit (12,5 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Cukup Banyak (44,64 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Sedikit (39,28 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (3,57 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah dan yang tidak mengikuti KIR Sangat Sedikit (11,26 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Sedikit (30,98 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Cukup Banyak (45,07 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (12,67 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah.
Hasil analisis diperoleh perhitungan uji-t variabel kreativitas belajar siswa yang mengikuti kegiatan KIR dan yang tidak mengikuti kegiatan KIR di SMU Negeri 1 Purwosari dengan menggunakan progam SPSS versi 12,00 diperoleh koefisien t-hitung (t-value) yaitu sebesar 2,395 dengan koefisien probabilitasnya 0,000.
Berdasarkan hasil penelitian, maka penelti manyarankan kepada beberapa pihak yaitu (1) Para guru perlu memberikan rangsangan dan dukungan dalam menumbuhkan kreativitas belajar siswa dengan cara menciptakan pelayanan pembelajaran yang menjadikan siswa merasa bebas mengemukakan pikiran atau pendapat serta gagasan.(2) Para siswa yang mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja maupun yang tidak mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja perlu menambah aktivitas yang menumbuhkan kreativitas. (3) Para konselor supaya senantiasa aktif untuk memberikan bimbingan serta memberikan kesempatan dan peluang untuk berkreativitas secara tepat.
Kondisi Yang Membuat Orang Kreatif
juga mulai dihadapkan pada berbagai keputusan untuk hidupnya. Remaja mengalami masa-masa yang penuh tuntutan dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kreativitas sangat dibutuhkan untuk dapat membantu mereka melakukan
penyelesaian masalah. Kreativitas dapat tumbuh dan berkembang jika didukung oleh situasi yang
kondusif. Beberapa hal eksternal yang mempengaruhi kreativitas adalah situasi
yang kondusif dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam hal ini, faktor pola asuh orang tua menjadi hal yang dianggap paling mempengaruhi kreativitas seseorang karena pola asuh orang tua sudah dirasakan sejak lahir.
Selain faktor-faktor di atas, kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan belajar musik. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa penelitian tentang
pengaruh musik terhadap perkembangan kreativitas. Penelitian sebelumnya banyak yang menghasilkan suatu kesimpulan bahwa musik klasik dan jazz dapat meningkatkan kreativitas seseorang. Perbedaan metode pembelajaran antara
musik klasik dan jazz memungkinkan perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan para siswanya. Penelitian kuasi-eksperimental ini berusaha melihat perbedaan kemampuan kreativitas yang dihasilkan oleh remaja yang belajar musik klasik, jazz, dan yang tidak belajar musik. Populasi penelitian ini terbagi atas tiga
kelompok. Populasi remaja yang belajar musik klasik dan jazz adalah mereka yang berusia 12 sampai 22 tahun dan mengikuti pembelajaran musik minimal level 2 di sekolah musik Farabi, YPM, IKJ, dan Yamaha. Sementara itu, populasi
remaja yang tidak belajar musik adalah mahasiswa Universitas Atmajaya yang berusia maksimal 22 tahun dan memilih sendiri jurusan kuliah yang mereka minati. Pada awalnya, digunakan kuesioner pola asuh untuk menyamakan karakter subyek penelitian. Subyek penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 37 remaja yang belajar musik klasik, 35 remaja yang belajar musik jazz, dan 40 remaja yang tidak belajar musik. Untuk mengukur skor kreativitasnya, peneliti menggunakan alat Tes Kreativitas Verbal (TKV) karena paling mampu merepresentasikan teori yang
digunakan penulis sebagai acuan, yaitu teori Guilford (1950). Tes ini mengukur kemampuan seseorang mengeksplorasikan ide-ide dalam bentuk verbal, oleh karena itu, hasil skornya lebih mengarah kepada kemampuan verbalnya.
Tes Kreativitas Verbal diadministrasikan kepada 18 remaja yang belajar musik klasik, 10 remaja yang belajar musik jazz, dan 17 remaja yang tidak belajar musik. Penulis menggunakan uji terpakai dalam penelitian ini karena populasi subyek penelitian yang berjumlah kecil dan sulit didapatkan.
Berdasarkan perhitungan dengan statistik non-parametrik metode Kruskall-Wallis one-way analysis of variance by ranks, didapatkan bahwa ada perbedaan kreativitas antara remaja yang belajar musik klasik, musik jazz, dan remaja yang tidak belajar musik. Tetapi, berdasarkan hasil skor kreativitas diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan kreativitas tertinggi diperoleh pada
remaja yang tidak belajar musik. Penulis melakukan beberapa analisis tambahan, dan didapatkan suatu kesimpulan bahwa perbedaan jumlah subyek berdasarkan jenis kelamin turut
mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu, penggunakan alat tes kreativitas yang bermuatan verbal dirasa kurang dapat mengukur kemampuan kreativitas seseorang secara keseluruhan.Penelitian ini memberikan saran praktis yakni bagi praktisi psikologi untuk dapat melakukan pengembangan alat ukur kreativitas di Indonesia. Selain itu, penulis juga memberikan saran kepada lembaga pendidikan musik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan musiknya
Secara psikologis pengertian kreativitas adalah satuan potensi yang ada pada diri manusia. Kelompok Ilmiah Remaja berarti suatu kelompok yang anggotanya terdiri para remaja yang mempunyai kegiatan utama yang bersifat ilmiah. Dalam dunia pendidikan, aktivitas Kelompok Ilmiah Remaja merupakan suatu kegiatan aktivitas ekstrakurikuler yang berusaha menggali potensi yang ada pada remaja atau siswa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR), (2) Untuk mengetahui tingkat kreativitas belajar siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari, (3) Untuk mengetahui perbedaan kreativitas belajar antara siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR) dengan siswa yang tidak tergabung dalam kelompok ilmiah remaja di SMA Negeri 1 Purwosari
Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Purwosari Tahun Ajaran 2007 / 2008 yang berjumlah 357 orang siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI yang berjumlah 56 orang siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Total Sampling dan Proporsional Random Sampling. Instrumen yang digunakan untuk Kreativitas Belajar adalah angket terstruktur yang terdiri dari item Positif dan Negatif. Teknik yang digunakan adalah persentase, uji normalitas uji homogenitas dan uji t, dan korelasi product moment dengan taraf kepercayaan 95 % dan tingkat toleransi kesalahan 5 %.
Hasil penelitian yang mengkuti KIR menunjukkan bahwa Sangat Sedikit (12,5 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Cukup Banyak (44,64 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Sedikit (39,28 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (3,57 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah dan yang tidak mengikuti KIR Sangat Sedikit (11,26 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sangat Tinggi, Sedikit (30,98 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Tinggi, Cukup Banyak (45,07 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Sedang, Sangat Sedikit (12,67 %) siswa mempunyai tingkat kreativitas belajar dalam kategori Rendah.
Hasil analisis diperoleh perhitungan uji-t variabel kreativitas belajar siswa yang mengikuti kegiatan KIR dan yang tidak mengikuti kegiatan KIR di SMU Negeri 1 Purwosari dengan menggunakan progam SPSS versi 12,00 diperoleh koefisien t-hitung (t-value) yaitu sebesar 2,395 dengan koefisien probabilitasnya 0,000.
Berdasarkan hasil penelitian, maka penelti manyarankan kepada beberapa pihak yaitu (1) Para guru perlu memberikan rangsangan dan dukungan dalam menumbuhkan kreativitas belajar siswa dengan cara menciptakan pelayanan pembelajaran yang menjadikan siswa merasa bebas mengemukakan pikiran atau pendapat serta gagasan.(2) Para siswa yang mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja maupun yang tidak mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja perlu menambah aktivitas yang menumbuhkan kreativitas. (3) Para konselor supaya senantiasa aktif untuk memberikan bimbingan serta memberikan kesempatan dan peluang untuk berkreativitas secara tepat.
Kondisi Yang Membuat Orang Kreatif
Ada
beberapa kondisi dimana kreativitas dan menjadikan diri anda sendiri
menjadi kreatif sangat diperlukan, agar anda dapat menjadi pribadi yang
eksis dan penuh dengan karya yang bermanfaat bagi diri anda, orang lain,
dan masyarakat secara umum. Kondisi yang membutuhkan anda menjadi
pribadi yang kreatif adalah sebagai berikut:
Anda menghadapi kondisi berjalan ditempat, tidak puas, dan bosan (misalnya kerja sudah 10 tahun tapi Cuma kaya itu-itu aja, (ga’ bosen tuh?). Jika anda merasa roda hidup anda tidak berputar, anda tidak puas denga hasil yang anda peroleh, atau anda bosan dengan kondisi yang begitu-begitu saja, maka anda harus berupaya menjadi lebih kreatif. Ini bukan berarti Anda tidak mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan untuk Anda, melainkan ini adalah upaya untuk bisa meningkatkan diri anda menjadi lebih baik.
Anda yakin bahwa anda dapat mengerjakan lebih dibandingkan dengan yang anda peroleh sekarang (misalnya anda kuat bekerja selama 14 jam, tapi anda hanya punya pekerjaan yang dapat diselesaikan dlam waktu 5 jam saja). Jika anda memiliki sumber daya dan potensi yang lebih, namun anda belum memperoleh hasil yang setimpal, maka anda juga harus berupaya untuk lebih kreatif
Anda mengerjakan hal yang sama sepanjang hari dan berulang-ulang (misalnya tugas anda hanya memasang tutup botol kemasan air minum saja setiap harinya, dan Anda harus melakukannya setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00. Hmm… Apa gak bosen Cuma kaya gitu aja?). Jika anda mengerjakan hal yang itu-itu juga, maka anda sudah dapat memprediksi hasilnya. Oleh karena itu, anda perlu menjadikan diri Anda lebih kreatif agar anda dapat memperoleh hasil yang lain, yang juga diharapkan lebih baik dari sebelumnya.
Anda membicarakan hal yang sama dengan orang yang sama (ini adalah kondisi 4 L – lu lagi lu lagi, seperti suami istri yang tinggal di rumah BTN tipe 21).
Anda merasa sudah tidak menjadi diri anda lagi (misalnya anda krisis identitas, senang bergaya meniru-niru artis atau bintang idola anda). Jika anda kehilangan identitas, dan cenderung meniru-niru orang lain, maka anda juga perlu menjadi orang lebih kreatif. Just be yourself.
Anda menghadapi kondisi berjalan ditempat, tidak puas, dan bosan (misalnya kerja sudah 10 tahun tapi Cuma kaya itu-itu aja, (ga’ bosen tuh?). Jika anda merasa roda hidup anda tidak berputar, anda tidak puas denga hasil yang anda peroleh, atau anda bosan dengan kondisi yang begitu-begitu saja, maka anda harus berupaya menjadi lebih kreatif. Ini bukan berarti Anda tidak mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan untuk Anda, melainkan ini adalah upaya untuk bisa meningkatkan diri anda menjadi lebih baik.
Anda yakin bahwa anda dapat mengerjakan lebih dibandingkan dengan yang anda peroleh sekarang (misalnya anda kuat bekerja selama 14 jam, tapi anda hanya punya pekerjaan yang dapat diselesaikan dlam waktu 5 jam saja). Jika anda memiliki sumber daya dan potensi yang lebih, namun anda belum memperoleh hasil yang setimpal, maka anda juga harus berupaya untuk lebih kreatif
Anda mengerjakan hal yang sama sepanjang hari dan berulang-ulang (misalnya tugas anda hanya memasang tutup botol kemasan air minum saja setiap harinya, dan Anda harus melakukannya setiap hari dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00. Hmm… Apa gak bosen Cuma kaya gitu aja?). Jika anda mengerjakan hal yang itu-itu juga, maka anda sudah dapat memprediksi hasilnya. Oleh karena itu, anda perlu menjadikan diri Anda lebih kreatif agar anda dapat memperoleh hasil yang lain, yang juga diharapkan lebih baik dari sebelumnya.
Anda membicarakan hal yang sama dengan orang yang sama (ini adalah kondisi 4 L – lu lagi lu lagi, seperti suami istri yang tinggal di rumah BTN tipe 21).
Anda merasa sudah tidak menjadi diri anda lagi (misalnya anda krisis identitas, senang bergaya meniru-niru artis atau bintang idola anda). Jika anda kehilangan identitas, dan cenderung meniru-niru orang lain, maka anda juga perlu menjadi orang lebih kreatif. Just be yourself.
sumber : http://dayatstain.blogspot.com/2013/01/menumbuhkan-bentuk-bentuk-kreativitas_10.html?m=1
Remaja Indonesia Buktikan Diri Lewat Prestasi
Di samping segi ilmu dan pengetahuan, kunci dapat berprestasi juga ada pada kepedulian.
Pada bulan Mei yang lalu, kita mendengar kabar gembira bahwa sejumlah remaja peneliti dari Indonesia meraih prestasi dalam Asia Pacific Conference of Young Scientists di Palembang, Sumatra Selatan. Mereka merebut delapan medali —tiga medali emas, dua perak, tiga perunggu— dan penghargaan khusus dalam lomba karya ilmiah remaja.
Tidak sedikit pula remaja Indonesia yang sudah terbukti mampu mengukir nama di berbagai penghargaan sains internasional. Karya tulis ilmiah pelajar-pelajar berprestasi tersebut adalah bukti bahwa putra-putri bangsa Indonesia punya kapasitas atau mumpuni.
Di samping segi kecakapan ilmu dan pengetahuan, kunci dapat berprestasi juga ada pada kepedulian. Ini contoh yang ditunjukkan tim SMA Tarsisius 1 Jakarta dalam penghargaan Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2013 beberapa waktu yang lalu.
Jovita Nathania, Rosinta Handinata, serta Maria Christina Yolenta Lestari, membuat metode belajar baru soal terumbu karang secara menarik dengan memodifikasi permaian kartu uno.
Atas kreativitas mereka, maka Consortium for Ocean Leadership—sebuah lembaga nonprofit di Washington DC yang menaungi 102 institusi riset kelautan di Amerika Serikat—mengganjar dengan penghargaan khusus sebagai salah satu proyek kepedulian kelautan terbaik, hadiah senilai USD1.000.
"Namun, sekitar 31,5 persen dari karang Indonesia telah rusak, terutama disebabkan oleh aktivitas manusia. Sulitnya pemerintah kurang memperhatikan pendidikan kelautan, masih juga sedikit yang memiliki kurikulum dengan topik kelautan dan materi pengajaran pun terbatas bagi anak-anak sekolah," ujar Jovita. Mereka menyadari jadi perlu cara yang kreatif menciptakan kesadaran melestarikan laut di kalangan anak-anak sekolah untuk melengkapi bahan pelajaran sekolah yang ada.
Selain tim dari SMA Tarsisius tersebut, Indonesia di Intel ISEF juga diwakili oleh Hani Devinta Sari dari SMA 63 Jakarta, yang meneliti pemanfaatan ekstra bunga telang sebagai bahan pembuatan indikator penguji zat formalin dalam makanan. Serta Imadudin Siddiq, pelajar SMIT Insantama Bogor yang melakukan penelitian pemanfaatan cangkang telur sebagai materi pembuatan wadah makanan yang anti semut.
Direktur Center of Young Scientists Surya University, Monika Raharti, sebagaimana dikutip Hai Online, Rabu (2/10), mengatakan, "Tak dapat kita pungkiri, masa depan Indonesia juga terletak di tangan para peneliti muda. Dengan kombinasi karakter unggul dan kemampuan riset yang di atas rata-rata, maka para peneliti belia ini akan mampu menjadi pemimpin-pemimpin terbaik Indonesia."
(Gloria Samantha)
sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/remaja-indonesia-buktikan-diri-lewat-prestasi
sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/remaja-indonesia-buktikan-diri-lewat-prestasi
Inovasi Remaja yang Membuat Decak Kagum
Menyaksikan kreativitas dan inovasi hasil
riset para remaja, kita hanya bisa geleng-geleng kepala. Takjub, karena
inovasi yang mereka hasilkan sederhana, tetapi menjadi solusi berbagai
persoalan yang ada di masyarakat. Mereka pun masih berusia sangat belia,
baru belasan tahun.
Naufal Rasendriya Apta R (15) dan Archel Valiano (15), misalnya, baru duduk di kelas IX SMP Islam Al Azhar 26, Yogyakarta. Namun, keduanya bisa menghasilkan karya yang membuat decak kagum pengunjung maupun dewan juri Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2013.
Naufal dan Archel menawarkan helm untuk pengendara sepeda motor ataupun sepeda yang dilengkapi lampu sein atau rating di telinga kiri dan kanannya.
Mereka memodifikasi alat sensor yang dapat menghidupkan lampu sein di helm. Uniknya, pengendara cukup menggelengkan kepala ke kiri atau ke kanan saat hendak berbelok sesuai arah, maka lampu sein menyala. Jika sudah tidak dipakai, pengendara tinggal menganggukkan kepala ke depan dua kali, maka lampu sein akan mati.
”Kami buat helm ini supaya bisa mengurangi angka kecelakaan di jalan raya,” kata Naufal yang atas karyanya ini, dia diganjar menjadi juara kedua kategori National Young Inventor Award (NYIA) Ke-6.
Di ajang NYIA beragam karya ditawarkan siswa SD, SMP, dan SMA sederajat berusia 8-18 tahun. Untuk mengatasi kejahatan, misalnya, siswa SMAN 6 Yogyakarta menawarkan gelang anti-penculikan dengan sensor alarm otomatis dan sandal antimaling. Ada juga sistem pengamanan terhadap benda pasif maupun aktif tanpa menggunakan kunci yang ditawarkan siswa SMA Dharma Karya, Tangerang Selatan.
Siswa SMAN 6 Yogyakarta juga membuat 3 in 1 shoes, yakni sepatu yang bisa dimodifikasi untuk tiga penampilan, iBlind yakni komunikasi melalui layanan pesan singkat (short message service/SMS) berformat huruf braille untuk penyandang tunanetra yang juga tunarungu. Ada pula kursi roda hidrolik yang memudahkan penyandang cacat untuk pindah sendiri ke tempat tidur tanpa bantuan orang lain.
Putri Khusna Millaty, siswa MAN 2 Kudus, Jawa Tengah, menciptakan alat pembelah durian. Cara kerja alat ini mengikuti prinsip payung terbalik.
”Anak nakal”
Menjadi juara dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dalam Kompetisi Ilmiah LIPI, bagi para peserta, bukan sekadar meraih hadiah dan piagam penghargaan. Tantangan terberat justru melawan rasa takut, ejekan orang lain, sulit mencari pembimbing, hingga terbatasnya fasilitas.
Naufal dan Archel yang masih SMP, umpamanya, sempat merasa takut menghadapi peserta lain yang umumnya siswa SMA/MA tersohor.
”Menyuntikkan semangat kepada mereka butuh kesabaran,” kata Ferry Kurniawan, guru Fisika SMP Islam Al Azhar yang juga pembimbing Naufal dan Archel.
Tak hanya juara dalam mengatasi ketakutan, mereka juga juara karena bisa mengatasi penolakan dari pimpinan sekolah yang meragukan potensi dua remaja yang dicap ”anak nakal” di sekolahnya.
Ferry mengisahkan pimpinan sekolah yang lama sempat menolak Naufal dan Archel mewakili sekolah untuk ikut Kompetisi Ilmiah LIPI. Pimpinan sekolah tersebut menganggap yang layak dikirim adalah anak-anak yang juara. Sebab, prestasi Naufal dan Archel di kelas biasa-biasa saja dan suka usil sehingga dicap ”anak nakal”.
”Sebenarnya mereka punya potensi yang bagus untuk eksperimen. Itulah yang saya lihat di diri mereka,” kata Ferry. ”Keberhasilan Naufal dan Archel ini akan jadi inspirasi buat banyak orang,” tambah Ferry.
Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, Ketua Pelaksana Kompetisi Ilmiah LIPI 2013, mengatakan hasil karya di ajang NYIA berpotensi paten. Karya tersebut berpotensi untuk diproduksi massal. Sayang, belum banyak perusahaan yang melirik potensi peneliti remaja ini. Meski demikian, ada pula hasil-hasil inovasi remaja yang kemudian diproduksi massal seperti helm berpendingin.
Ajang penelitian remaja oleh LIPI ini tak hanya didominasi peserta di bidang sains dan teknologi. Para remaja yang berminat di penelitian sosial juga mendapat tempat dalam LKIR dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPIR)
Di ajang LKIR yang memasuki penyelenggaraan ke-45, minat peneliti remaja memasukkan karya cukup tinggi, lebih dari 1.000 karya tahun ini.
Rizki Muliyawati dan Dea Despianti, siswa SMAN 1 Muncang, Lebak, Banten, misalnya, melakukan penelitian terhadap para petambang pasir tradisional di Haurgajrug Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten. ”Saya harus bertahan di sekolah sampai malam untuk membuat laporan penelitian karena di rumah tidak ada komputer dan laptop,” ujar Rizki yang meraih juara kedua LKIR kategori Ilmu pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan.
”Indonesia harus memperhatikan remaja-remaja hebat ini. Menyalakan semangat mereka agar terus berkarya,” kata Kepala LIPI Lukman Hakim.
Naufal Rasendriya Apta R (15) dan Archel Valiano (15), misalnya, baru duduk di kelas IX SMP Islam Al Azhar 26, Yogyakarta. Namun, keduanya bisa menghasilkan karya yang membuat decak kagum pengunjung maupun dewan juri Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2013.
Naufal dan Archel menawarkan helm untuk pengendara sepeda motor ataupun sepeda yang dilengkapi lampu sein atau rating di telinga kiri dan kanannya.
Mereka memodifikasi alat sensor yang dapat menghidupkan lampu sein di helm. Uniknya, pengendara cukup menggelengkan kepala ke kiri atau ke kanan saat hendak berbelok sesuai arah, maka lampu sein menyala. Jika sudah tidak dipakai, pengendara tinggal menganggukkan kepala ke depan dua kali, maka lampu sein akan mati.
”Kami buat helm ini supaya bisa mengurangi angka kecelakaan di jalan raya,” kata Naufal yang atas karyanya ini, dia diganjar menjadi juara kedua kategori National Young Inventor Award (NYIA) Ke-6.
Di ajang NYIA beragam karya ditawarkan siswa SD, SMP, dan SMA sederajat berusia 8-18 tahun. Untuk mengatasi kejahatan, misalnya, siswa SMAN 6 Yogyakarta menawarkan gelang anti-penculikan dengan sensor alarm otomatis dan sandal antimaling. Ada juga sistem pengamanan terhadap benda pasif maupun aktif tanpa menggunakan kunci yang ditawarkan siswa SMA Dharma Karya, Tangerang Selatan.
Siswa SMAN 6 Yogyakarta juga membuat 3 in 1 shoes, yakni sepatu yang bisa dimodifikasi untuk tiga penampilan, iBlind yakni komunikasi melalui layanan pesan singkat (short message service/SMS) berformat huruf braille untuk penyandang tunanetra yang juga tunarungu. Ada pula kursi roda hidrolik yang memudahkan penyandang cacat untuk pindah sendiri ke tempat tidur tanpa bantuan orang lain.
Putri Khusna Millaty, siswa MAN 2 Kudus, Jawa Tengah, menciptakan alat pembelah durian. Cara kerja alat ini mengikuti prinsip payung terbalik.
”Anak nakal”
Menjadi juara dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dalam Kompetisi Ilmiah LIPI, bagi para peserta, bukan sekadar meraih hadiah dan piagam penghargaan. Tantangan terberat justru melawan rasa takut, ejekan orang lain, sulit mencari pembimbing, hingga terbatasnya fasilitas.
Naufal dan Archel yang masih SMP, umpamanya, sempat merasa takut menghadapi peserta lain yang umumnya siswa SMA/MA tersohor.
”Menyuntikkan semangat kepada mereka butuh kesabaran,” kata Ferry Kurniawan, guru Fisika SMP Islam Al Azhar yang juga pembimbing Naufal dan Archel.
Tak hanya juara dalam mengatasi ketakutan, mereka juga juara karena bisa mengatasi penolakan dari pimpinan sekolah yang meragukan potensi dua remaja yang dicap ”anak nakal” di sekolahnya.
Ferry mengisahkan pimpinan sekolah yang lama sempat menolak Naufal dan Archel mewakili sekolah untuk ikut Kompetisi Ilmiah LIPI. Pimpinan sekolah tersebut menganggap yang layak dikirim adalah anak-anak yang juara. Sebab, prestasi Naufal dan Archel di kelas biasa-biasa saja dan suka usil sehingga dicap ”anak nakal”.
”Sebenarnya mereka punya potensi yang bagus untuk eksperimen. Itulah yang saya lihat di diri mereka,” kata Ferry. ”Keberhasilan Naufal dan Archel ini akan jadi inspirasi buat banyak orang,” tambah Ferry.
Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, Ketua Pelaksana Kompetisi Ilmiah LIPI 2013, mengatakan hasil karya di ajang NYIA berpotensi paten. Karya tersebut berpotensi untuk diproduksi massal. Sayang, belum banyak perusahaan yang melirik potensi peneliti remaja ini. Meski demikian, ada pula hasil-hasil inovasi remaja yang kemudian diproduksi massal seperti helm berpendingin.
Ajang penelitian remaja oleh LIPI ini tak hanya didominasi peserta di bidang sains dan teknologi. Para remaja yang berminat di penelitian sosial juga mendapat tempat dalam LKIR dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPIR)
Di ajang LKIR yang memasuki penyelenggaraan ke-45, minat peneliti remaja memasukkan karya cukup tinggi, lebih dari 1.000 karya tahun ini.
Rizki Muliyawati dan Dea Despianti, siswa SMAN 1 Muncang, Lebak, Banten, misalnya, melakukan penelitian terhadap para petambang pasir tradisional di Haurgajrug Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten. ”Saya harus bertahan di sekolah sampai malam untuk membuat laporan penelitian karena di rumah tidak ada komputer dan laptop,” ujar Rizki yang meraih juara kedua LKIR kategori Ilmu pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan.
”Indonesia harus memperhatikan remaja-remaja hebat ini. Menyalakan semangat mereka agar terus berkarya,” kata Kepala LIPI Lukman Hakim.
sumber : http://sains.kompas.com/read/2013/11/18/1010241/Inovasi.Remaja.yang.Membuat.Decak.Kagum
Kenakalan Remaja: Faktor Penyebab dan Tips Menghadapinya
Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba,
Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah
tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman
sekarang. Dan saya pun pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri
ketika sebuah anak kelas satu SMA di kompelks saya, ditangkap/diciduk
POLISI akibat menjadi seorang bandar gele, atau yang lebih kita kenal
dengan ganja.
Hal ini semua bisa terjadi karena adanya faktor-faktor kenakalan remaja berikut:
– kurangnya kasih sayang orang tua.
– kurangnya pengawasan dari orang tua.
– pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
– peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.
– tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.
– dasar-dasar agama yang kurang
– tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya
– kebasan yang berlebihan
– masalah yang dipendam
Dan saya dapat memberikan beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.
Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
• Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
• Santrock
“Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
Jenis-jenis kenakalan remaja
• Penyalahgunaan narkoba
• Seks bebas
• Tawuran antara pelajar
Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal:
1. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
Hal ini semua bisa terjadi karena adanya faktor-faktor kenakalan remaja berikut:
– kurangnya kasih sayang orang tua.
– kurangnya pengawasan dari orang tua.
– pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
– peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif.
– tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah.
– dasar-dasar agama yang kurang
– tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya
– kebasan yang berlebihan
– masalah yang dipendam
Dan saya dapat memberikan beberapa tips untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:
- Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
- Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.
- Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
- Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
- Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
- Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.
- Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
- Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.
Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
• Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
• Santrock
“Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
Jenis-jenis kenakalan remaja
• Penyalahgunaan narkoba
• Seks bebas
• Tawuran antara pelajar
Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal:
1. Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
- Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
- Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
- Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
- Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
- Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
Rabu, 07 Januari 2015
Langganan:
Postingan (Atom)